TwitterTwitter FacebookFacebook FlickrFlickr RSSRSS

Kamis, 19 Juni 2014

Gerakan Go Green Untuk Indonesia

Go Green merupakan kegiatan penghijauan terhadap kondisi lingkungan yang sekarang ini mengalami kerusakan maupun pemanasan global atau yang lebih dikenal dengan Global Warming sebagai upaya penyelamatan bumi melalui pembuangan kebiasaan-kebiasaan buruk kita seperti membuang sampah tidak pada tempatnya, penebangan pohon yang tidak memperhatikan prinsip tebang pilih hingga polusi udara yang intensitasnya semakin tinggi akibat gas karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Entah, bumi kita dapat bertahan berapa lama lagi untuk menampung kita dan generasi yang akan datang. Dengan kemajuan zaman pada saat ini banyak produk yang tidak ramah lingkungan dan dapat merusak alam dan lingkungan karena banyak bahan bahan yang beracun dan berpotensi merusak lingkungan. Selain itu life style dari kita juga berpengaruh terhadap lingkungan seperti pemakaian pendingin ruangan (AC) dan lemari es
Berikut beberapa cara untuk menerapkan upaya Go Green di kehidupan sehari-hari:

  • Tidak membuang sampah sembarang tempat.
  • Penggunaan air bersih seperlunya.
  • Tanamlah minimal satu pohon untuk setiap orang.
  • Gunakan kertas secara maksimal dengan cara memanfaatkan kedua sisinya.
  • Hematlah pemakaian listrik seefisien mungkin.
  • Penggunaan transportasi massal seperti busway, bus, angkot dikota-kota besar sangat dianjurkan untuk mengurangi polusi udara.
  • Menggunakan transportasi yang bebas emisi gas seperti motor listrik dan sepeda, atau bahkan jalan kaki.
  • Memilah sampah, daur ulang yang dapat dimanfaatkan kembali (terapkan prinsip 3R, yakni Reuse, Reduce dan Recycle).
  • Menghemat air dan sabun saat cuci tangan.
  • Melakukan pengomposan di rumah.
  • Daur ulang sampah.
Sedangkan untuk mengatasi Global Warming diperlukan usaha yang cukup keras dan waktu yang berkesinambungan. Dengan kondisi yang seperti ini, kita harus mulai menanamkan kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan hidup mulai sejak dini. Tentunya perubahan tidaklah harus dari skala besar. Mulailah dari hal yang terkecil untuk sebuah perubahan yang berarti untuk negeri ini. Stop Global Warming dengan Go Green! Nyawa bumi ada di tangan Kita!

Maka Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Kau Dustakan? Edisi: Penerima Bidik Misi

"The best feeling in the world is to know that our parents are smiling because of us"

Kemarin malam tepatnya tanggal 18 Juni 2014, aku menonton Hitam Putih Trans 7. Waktu itu Deddy Corbuzier mendatangkan Mbak Raeni, kalian tau kan? Ya. Mbak Raeni adalah mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang lulus secara cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,96! Wow banget ya.



Di acara Hitam Putih, Mbak Raeni menceritakan tentang perjuangan dirinya untuk merengkuh perguruan tinggi. Memang tidak mudah blogger, karena ternyata ayahanda dari Mbak Raeni berprofesi sebagai pengayuh becak yang sekaligus melakoni pekerjaan sampingan sebagai penjaga malam disekolah dengan penghasilan 10-50 ribu rupiah. Dulunya, Bapak Mugiyono pernah bekerja sebagai buruh pabrik kayu lapis lalu memutuskan untuk pensiun dini demi mendapatkan uang pesangon yang digunakan untuk membeli laptop sebagai kebutuhan Mbak Raeni menempuh studinya. Mbak Raeni ternyata mahasiswi penerima Bidik Misi kemudian memiliki background  SMK dengan jurusan Akuntansi, S-1 FE Pendidikan Akuntansi dan akan segera melanjutkan studinya ke Inggris dengan mendapatkan Beasiswa Presiden setelah bertemu dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Mbak Raeni mengaku selama kuliah juga mengikuti berbagai organisasi, lomba-lomba, menjadi aslab, bahkan menjadi guru ngaji dan guru les.

Gambar: Mbak Raeni dan ayahandanya saat bertemu dengan Bapak SBY dan Ibu Ani Yudhoyono.

Momen yang lebih mengharukan lagi adalah saat wisuda diantar oleh ayahanda tercinta dengan menggunakan becak. Mbak Raeni tidak pernah merasa minder, ungkapnya. Meskipun pada awalnya ada yang mencemooh namun hal tersebut bukan menjadi halangan Mbak Raeni untuk menyelesaikan studinya untuk membahagiakan kedua orang tuanya dan menggapai cita-citanya sebagai dosen. Bahkan hal tersebut membuatnya lebih bersemangat dan terbukti mendapatkan IPK dan beasiswa dari Presiden yang patut diacungi jempol walaupun dalam keterbatasan ekonomi.

Gambar: Bapak Mugiyono saat mengayuh becak untuk mengantarkan sang anak wisuda.

What an inspiring person, right?
Kita semua setuju dengan hal ini bahwa dibalik keterbatasan atau ketidakmampuan masih ada campur tangan Allah dibelakangnya. Bahkan ada dalam surah Arraad Ayat 79 yang mana artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri."
Membuat aku sangat terharu karena hal ini agak mengena untuk diriku sendiri, blogger.
Aku adalah mahasiswi Pendidikan Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang juga penerima Bidik Misi. Memang beasiswa ini sangat bermanfaat karena dengan adanya beasiswa Bidik Misi, aku memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Sejak SMK, aku mengambil jurusan Akuntansi di SMK Negeri 1 Banjarmasin. Masih terbesit diingatan saat aku jualan roti dan pulsa elektrik ke kelas-kelas, ngajar les Bahasa Inggris anak SD dan mengikuti organisasi serta lomba-lomba. Selain sebagai pengalaman hidup, tapi tujuannya agar meringankan beban orang tua. Saat menginjak masa perkuliahan pun aku masih mengajar les Akuntansi untuk anak SMK dan les Bahasa Inggris untuk anak SD serta ketertarikan dalam hal menulis karya tulis ilmiah di sela-sela waktu luang. Tentunya dengan adanya kisah dari Mbak Raeni ini sangat menginsipirasi aku sebagai mahasiswa Bidik Misi untuk terus meningkatkan semangat belajar tidak hanya berorientasi kepada IP saja, namun sebagai agent of change kita perlu memberikan kontribusi untuk negara ini.
Banyak sekali mahasiswa/i Bidik Misi yang sangat memotivasi seperti Mbak Birrul Qodriyyah, Mahasiswi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran yang menjadi mahasiswa berprestasi UGM tentunya tidak hanya didukung prestasi akademik yang mencolok hingga semester 6 ia memiliki IPK 3,74. Kemudian Mbak Angga Dwituti Lestari, mahasiswi asal Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang berprestasi yang bahkan memiliki IPK 3,98 saat lulus wisuda. Semoga suatu saat bisa seperti mereka dan juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi agar bisa mencapai cita-citaku yang juga ingin menjadi dosen. Aamiin.
Pesan yang bisa kita petik adalah selalu ada jalan dari Allah ketika dibarengi dengan niat, ikhtiar dan doa walaupun dalam keterbatasan untuk meraih cita-cita. Man jadda wa jadda!

Rabu, 18 Juni 2014

Degradasi Moral: Haruskah Kita Biarkan?

Bangsa Indonesia mengalami degradasi moral dan akhlak. Ironisnya, kondisi ini juga mewabah di kalangan intelektual, elit politik, para pemegang kekuasaan, dan anak remaja. Padahal di dalam Pendidikan Kewarganegaraan telah mengajarkan tentang nilai-nilai budi pekerti yang diharapkan dapat memacu remaja untuk berprestasi, berkreasi, dan memaknai Pancasila sebagai sebuah pondasi yang terinternalisasi.
Contoh sederhana yang sering kita lihat yakni banyaknya tawuran antar pelajar bahkan mahasiswa, penyalahgunaan narkoba yang tentu saja dapat merusak masa depan anak bangsa, dan membudayanya sikap ketidakjujuran. Dari hal tersebut menggambarkan bahwa bangsa ini sedang mengalami degradasi moral dan akhlak, sehingga perlu upaya membenahi keadaan ini sebelum semakin parah.
Berikut ini merupakan aspek yang dapat menanggulangi degradasi moral remaja.
1.   Aspek pendidikan formal/lingkungan sekolah
Pendidikan yang lebih menekankan kepada bimbingan dan pembinaan perilaku konstruktif, mandiri, dan kreatif menjadi faktor penting, karena melatih  mental dan moral remaja menuju terbentuknya pribadi yang memiliki daya ketahanan pribadi dan sosial yang berlaku dalam lingkungan remaja itu sendiri berikut lingkungan sosialnya.
2.   Aspek lingkungan keluarga
Aspek ini jelas memberi andil yang signifikan terhadap berkembangnya pola perilaku menyimpang para remaja, karena proses penanaman nilai-nilai bermula dari dinamika kehidupan dalam keluarga itu sendiri dan akan terus berlangsung sampai remaja dapat menemukan identitas diri dan aktualisasi pribadinya secara utuh. Remaja akan menentukan perilaku sosialnya seiring dengan maraknya perilaku remaja seusianya yang notabene mendapat penerimaan secara utuh oleh kalangannya. Oleh karenanya, peranan orang tua termasuk sanak keluarga lebih dominan di dalam mendidik, membimbing, dan mengawasi, serta memberikan perhatian lebih sedini mungkin terhadap perkembangan perilaku remajanya.                           
3.   Aspek lingkungan pergaulan
Lingkungan pergaulan sering kali menuntut dan memaksa remaja harus dapat menerima pola perilaku yang dikembangkan remaja. Hal ini sebagai kompensasi pengakuan keberadaan remaja dalam kelompok. Maka, perlu diciptakan lingkungan pergaulan yang kondusif, agar situasi dan kondisi pergaulan dan hubungan sosial yang saling memberi pengaruh dan nilai-nilai positif bagi aktifitas remaja dapat terwujud.
4.   Aspek penegakan hukum/sanksi.
Ketegasan penerapan sanksi mungkin dapat menjadi shock teraphy (terapi kejut) bagi remaja yang melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Ini dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, kepolisian, dan lembaga lainnya.
5.   Aspek sosial kemasyarakat
Terciptanya relasi-relasi sosial yang baik dan serasi di antara warga masyarakat sekitar, akan memberi implikasi terhadap tumbuh dan berkembangnya kontak-kontak sosial yang dinamis, sehingga muncul sikap saling memahami, memperhatikan sekaligus mengawasi tindak perilaku warga, terutama remaja di lingkungannya. Hal ini tentu sangat mendukung terjalinnya hubungan dan aktifitas remaja yang terkontrol. Melalui aspek-aspek ini dapat memberikan perubahan positif yang signifikan apabila semua elemen masyarakat dan pemerintah dapat bersinergi untuk mengurangi degradasi moral remaja di Indonesia. Cara efektif membentuk karakter bangsa (masyarakat Indonesia) maupun generasi muda tidak terkecuali mahasiswa, yakni dengan reorentasi pendidikan untuk mendorong peran pemerintah lebih optimal serta revitalisasi  pendidik yang harus ditempuh untuk menjadikan pendidikan sebagai proses dalam pembentukan karakter Bangsa. Pendidikan terpadu merupakan sebuah tawaran solutif atas implementasi pembelajaran yang berlangsung selama ini, selain mengandalkan kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa yang diwujudkan dengan dibentuknya sejumlah lembaga nasional seperti Badan Koordinasi Pembangunan Karakter Bangsa serta Satuan Kerja Pembangunan Karakter Bangsa dari tingkat pusat sampai daerah serta banyak dilaksanakan seminar-seminar yang mengangkat isu karakter bangsa sebagai tajuk utamanya. Menurut Character Education Partnership bahwa untuk dapat mengimplementasikan program pendidikan karakter yang efektif, seyogyanya memenuhi beberapa prinsip berikut ini:
1. Komunitas sekolah mengembangkan dan meningkatkan nilai-nilai inti etika dan kinerja sebagai landasan karakter yang baik.
2. Sekolah berusaha mendefinisikan “karakter” secara komprehensif, di dalamnya mencakup berpikir (thinking), merasa (feeling), dan melakukan (doing).
3. Sekolah menggunakan pendekatan yang komprehensif, intensif, dan proaktif dalam pengembangan karakter.
4. Sekolah menciptakan sebuah komunitas yang memiliki kepedulian tinggi.(caring)
5. Sekolah menyediakan kesempatan yang luas bagi para siswanya untuk melakukan berbagai tindakan moral (moral action).
6. Sekolah menyediakan kurikulum akademik yang bermakna dan menantang, dapat
menghargai dan menghormati seluruh peserta didik, mengembangkan karakter mereka, dan berusaha membantu mereka untuk meraih berbagai kesuksesan.
7. Sekolah mendorong siswa untuk memiliki motivasi diri yang kuat
8. Staf sekolah (kepala sekolah, guru dan TU) adalah sebuah komunitas belajar etis yang senantiasa berbagi tanggung jawab dan mematuhi nilai-nilai inti yang telah disepakati. Mereka menjadi sosok teladan bagi para siswa.
9. Sekolah mendorong kepemimpinan bersama yang memberikan dukungan penuh terhadap gagasan pendidikan karakter dalam jangka panjang.
10. Sekolah melibatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter.
11. Secara teratur, sekolah melakukan asesmen terhadap budaya dan iklim sekolah,
keberfungsian para staf sebagai pendidik karakter di sekolah, dan sejauh mana siswa dapat mewujudkan karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
         Untuk itu paradigma pendidikan tepadu perlu digalakkan yaitu dengan memadukan antara teori dan praktek, antara teks dan konteks, selama ini pendidikan kita berlangsung antara teks dan konteks, antara teori dan praktek. Pemisahan ini menyebabkan pemahaman menjadi parsial dan tepisah-pisah dan pelajaran hanya di pahami sebatas formalitas saja. Padahal pendidikan harus menjadi proses konsientisasi (penyadaran) dan sebagai praktek pemerdekaan. Dalam proses konsientasi pendidikan tidak saja diarahkan pada realitas obyektif dan aktual, akan tetapi juga pada proses penyadaran akan dirinya sebagai manusia yang memiliki jati diri/ karakter.
         Selain itu, peran mahasiswa sebagai agent of change di lingkungan dalam rangka membuktikan social responsibity-nya yaitu berperan sebagai petugas knowledge transfer dari dunia kampus menuju luar kampus dalam upaya mencerdaskan bangsa dalam berbagai bidang terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah dan sebagai pelopor dalam pembentukan community development untuk memacu dinamisasi kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah. Sehingga peran pendidikan seharusnya dipahami bukan saja dalam konteks mikro (kepentingan anak didik yang dilayani melalui proses interaksi pendidikan), namun juga dalam konteks makro, yaitu kepentingan masayarakat yang dalam hal ini termasuk masyarakat bangsa, negara dan masyarakat dunia.