Senin, 01 September 2014
Kamis, 19 Juni 2014
Gerakan Go Green Untuk Indonesia
17.03Ana FitriaGo Green0 komentar
Go Green
merupakan kegiatan penghijauan terhadap kondisi lingkungan yang sekarang ini
mengalami kerusakan maupun pemanasan global atau yang lebih dikenal dengan Global Warming sebagai upaya
penyelamatan bumi melalui pembuangan kebiasaan-kebiasaan buruk kita seperti
membuang sampah tidak pada tempatnya, penebangan pohon yang tidak memperhatikan
prinsip tebang pilih hingga polusi udara yang intensitasnya semakin tinggi
akibat gas karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Entah, bumi kita
dapat bertahan berapa lama lagi untuk menampung kita dan generasi yang akan
datang. Dengan
kemajuan zaman pada saat ini banyak produk yang tidak ramah lingkungan dan
dapat merusak alam dan lingkungan karena banyak bahan bahan yang beracun dan
berpotensi merusak lingkungan. Selain itu life style dari kita juga berpengaruh
terhadap lingkungan seperti pemakaian pendingin ruangan (AC) dan lemari es
Berikut beberapa cara untuk menerapkan upaya Go Green di kehidupan sehari-hari:
- Tidak membuang sampah sembarang tempat.
- Penggunaan air bersih seperlunya.
- Tanamlah minimal satu pohon untuk setiap orang.
- Gunakan kertas secara maksimal dengan cara memanfaatkan kedua sisinya.
- Hematlah pemakaian listrik seefisien mungkin.
- Penggunaan transportasi massal seperti busway, bus, angkot dikota-kota besar sangat dianjurkan untuk mengurangi polusi udara.
- Menggunakan transportasi yang bebas emisi gas seperti motor listrik dan sepeda, atau bahkan jalan kaki.
- Memilah sampah, daur ulang yang dapat dimanfaatkan kembali (terapkan prinsip 3R, yakni Reuse, Reduce dan Recycle).
- Menghemat air dan sabun saat cuci tangan.
- Melakukan pengomposan di rumah.
- Daur ulang sampah.
Maka Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Kau Dustakan? Edisi: Penerima Bidik Misi
16.45Ana FitriaMotivasi0 komentar
"The best feeling in the world is to know that our parents are smiling because of us"
Kemarin malam tepatnya tanggal 18 Juni 2014, aku menonton Hitam Putih Trans 7. Waktu itu Deddy Corbuzier mendatangkan Mbak Raeni, kalian tau kan? Ya. Mbak Raeni adalah mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang lulus secara cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,96! Wow banget ya.
Di acara Hitam Putih, Mbak Raeni menceritakan tentang perjuangan dirinya untuk merengkuh perguruan tinggi. Memang tidak mudah blogger, karena ternyata ayahanda dari Mbak Raeni berprofesi sebagai pengayuh becak yang sekaligus melakoni pekerjaan sampingan sebagai penjaga malam disekolah dengan penghasilan 10-50 ribu rupiah. Dulunya, Bapak Mugiyono pernah bekerja sebagai buruh pabrik kayu lapis lalu memutuskan untuk pensiun dini demi mendapatkan uang pesangon yang digunakan untuk membeli laptop sebagai kebutuhan Mbak Raeni menempuh studinya. Mbak Raeni ternyata mahasiswi penerima Bidik Misi kemudian memiliki background SMK dengan jurusan Akuntansi, S-1 FE Pendidikan Akuntansi dan akan segera melanjutkan studinya ke Inggris dengan mendapatkan Beasiswa Presiden setelah bertemu dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Mbak Raeni mengaku selama kuliah juga mengikuti berbagai organisasi, lomba-lomba, menjadi aslab, bahkan menjadi guru ngaji dan guru les.
Gambar: Mbak Raeni dan ayahandanya saat bertemu dengan Bapak SBY dan Ibu Ani Yudhoyono.
Momen yang lebih mengharukan lagi adalah saat wisuda diantar oleh ayahanda tercinta dengan menggunakan becak. Mbak Raeni tidak pernah merasa minder, ungkapnya. Meskipun pada awalnya ada yang mencemooh namun hal tersebut bukan menjadi halangan Mbak Raeni untuk menyelesaikan studinya untuk membahagiakan kedua orang tuanya dan menggapai cita-citanya sebagai dosen. Bahkan hal tersebut membuatnya lebih bersemangat dan terbukti mendapatkan IPK dan beasiswa dari Presiden yang patut diacungi jempol walaupun dalam keterbatasan ekonomi.
Gambar: Bapak Mugiyono saat mengayuh becak untuk mengantarkan sang anak wisuda.
What an inspiring person, right?
Kita semua setuju dengan hal ini bahwa dibalik keterbatasan atau ketidakmampuan masih ada campur tangan Allah dibelakangnya. Bahkan ada dalam surah Arraad Ayat 79 yang mana artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri."
Membuat aku sangat terharu karena hal ini agak mengena untuk diriku sendiri, blogger.
Aku adalah mahasiswi Pendidikan Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang juga penerima Bidik Misi. Memang beasiswa ini sangat bermanfaat karena dengan adanya beasiswa Bidik Misi, aku memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Sejak SMK, aku mengambil jurusan Akuntansi di SMK Negeri 1 Banjarmasin. Masih terbesit diingatan saat aku jualan roti dan pulsa elektrik ke kelas-kelas, ngajar les Bahasa Inggris anak SD dan mengikuti organisasi serta lomba-lomba. Selain sebagai pengalaman hidup, tapi tujuannya agar meringankan beban orang tua. Saat menginjak masa perkuliahan pun aku masih mengajar les Akuntansi untuk anak SMK dan les Bahasa Inggris untuk anak SD serta ketertarikan dalam hal menulis karya tulis ilmiah di sela-sela waktu luang. Tentunya dengan adanya kisah dari Mbak Raeni ini sangat menginsipirasi aku sebagai mahasiswa Bidik Misi untuk terus meningkatkan semangat belajar tidak hanya berorientasi kepada IP saja, namun sebagai agent of change kita perlu memberikan kontribusi untuk negara ini.
Banyak sekali mahasiswa/i Bidik Misi yang sangat memotivasi seperti Mbak Birrul Qodriyyah, Mahasiswi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran yang menjadi mahasiswa berprestasi UGM tentunya tidak hanya didukung prestasi akademik yang mencolok hingga semester 6 ia memiliki IPK 3,74. Kemudian Mbak Angga Dwituti Lestari, mahasiswi asal Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang berprestasi yang bahkan memiliki IPK 3,98 saat lulus wisuda. Semoga suatu saat bisa seperti mereka dan juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi agar bisa mencapai cita-citaku yang juga ingin menjadi dosen. Aamiin.
Pesan yang bisa kita petik adalah selalu ada jalan dari Allah ketika dibarengi dengan niat, ikhtiar dan doa walaupun dalam keterbatasan untuk meraih cita-cita. Man jadda wa jadda!
Rabu, 18 Juni 2014
Degradasi Moral: Haruskah Kita Biarkan?
22.09Ana FitriaPendidikan0 komentar
Bangsa Indonesia mengalami degradasi moral dan akhlak. Ironisnya, kondisi ini juga mewabah di kalangan intelektual, elit politik, para pemegang kekuasaan, dan anak remaja. Padahal di dalam Pendidikan Kewarganegaraan telah mengajarkan tentang nilai-nilai budi pekerti yang diharapkan dapat memacu remaja untuk berprestasi, berkreasi, dan memaknai Pancasila sebagai sebuah pondasi yang terinternalisasi.
Contoh sederhana yang sering kita lihat yakni banyaknya tawuran antar pelajar bahkan mahasiswa, penyalahgunaan narkoba yang tentu saja dapat merusak masa depan anak bangsa, dan membudayanya sikap ketidakjujuran. Dari hal tersebut menggambarkan bahwa bangsa ini sedang mengalami degradasi moral dan akhlak, sehingga perlu upaya membenahi keadaan ini sebelum semakin parah.
Berikut ini merupakan aspek yang dapat menanggulangi degradasi moral remaja.
Contoh sederhana yang sering kita lihat yakni banyaknya tawuran antar pelajar bahkan mahasiswa, penyalahgunaan narkoba yang tentu saja dapat merusak masa depan anak bangsa, dan membudayanya sikap ketidakjujuran. Dari hal tersebut menggambarkan bahwa bangsa ini sedang mengalami degradasi moral dan akhlak, sehingga perlu upaya membenahi keadaan ini sebelum semakin parah.
Berikut ini merupakan aspek yang dapat menanggulangi degradasi moral remaja.
1. Aspek pendidikan formal/lingkungan sekolah
Pendidikan yang lebih menekankan kepada bimbingan dan pembinaan perilaku konstruktif, mandiri, dan kreatif menjadi faktor penting, karena melatih mental dan moral remaja menuju terbentuknya pribadi yang memiliki daya ketahanan pribadi dan sosial yang berlaku dalam lingkungan remaja itu sendiri berikut lingkungan sosialnya.
2. Aspek lingkungan keluarga
Aspek ini jelas memberi andil yang signifikan terhadap berkembangnya pola perilaku menyimpang para remaja, karena proses penanaman nilai-nilai bermula dari dinamika kehidupan dalam keluarga itu sendiri dan akan terus berlangsung sampai remaja dapat menemukan identitas diri dan aktualisasi pribadinya secara utuh. Remaja akan menentukan perilaku sosialnya seiring dengan maraknya perilaku remaja seusianya yang notabene mendapat penerimaan secara utuh oleh kalangannya. Oleh karenanya, peranan orang tua termasuk sanak keluarga lebih dominan di dalam mendidik, membimbing, dan mengawasi, serta memberikan perhatian lebih sedini mungkin terhadap perkembangan perilaku remajanya.
3. Aspek lingkungan pergaulan
Lingkungan pergaulan sering kali menuntut dan memaksa remaja harus dapat menerima pola perilaku yang dikembangkan remaja. Hal ini sebagai kompensasi pengakuan keberadaan remaja dalam kelompok. Maka, perlu diciptakan lingkungan pergaulan yang kondusif, agar situasi dan kondisi pergaulan dan hubungan sosial yang saling memberi pengaruh dan nilai-nilai positif bagi aktifitas remaja dapat terwujud.
4. Aspek penegakan hukum/sanksi.
Ketegasan penerapan sanksi mungkin dapat menjadi shock teraphy (terapi kejut) bagi remaja yang melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Ini dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, kepolisian, dan lembaga lainnya.
5. Aspek sosial kemasyarakat
Terciptanya relasi-relasi sosial yang baik dan serasi di antara warga masyarakat sekitar, akan memberi implikasi terhadap tumbuh dan berkembangnya kontak-kontak sosial yang dinamis, sehingga muncul sikap saling memahami, memperhatikan sekaligus mengawasi tindak perilaku warga, terutama remaja di lingkungannya. Hal ini tentu sangat mendukung terjalinnya hubungan dan aktifitas remaja yang terkontrol. Melalui aspek-aspek ini dapat memberikan perubahan positif yang signifikan apabila semua elemen masyarakat dan pemerintah dapat bersinergi untuk mengurangi degradasi moral remaja di Indonesia. Cara efektif membentuk karakter bangsa (masyarakat Indonesia) maupun generasi muda tidak terkecuali mahasiswa, yakni dengan reorentasi pendidikan untuk mendorong peran pemerintah lebih optimal serta revitalisasi pendidik yang harus ditempuh untuk menjadikan pendidikan sebagai proses dalam pembentukan karakter Bangsa. Pendidikan terpadu merupakan sebuah tawaran solutif atas implementasi pembelajaran yang berlangsung selama ini, selain mengandalkan kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa yang diwujudkan dengan dibentuknya sejumlah lembaga nasional seperti Badan Koordinasi Pembangunan Karakter Bangsa serta Satuan Kerja Pembangunan Karakter Bangsa dari tingkat pusat sampai daerah serta banyak dilaksanakan seminar-seminar yang mengangkat isu karakter bangsa sebagai tajuk utamanya. Menurut Character Education Partnership bahwa untuk dapat mengimplementasikan program pendidikan karakter yang efektif, seyogyanya memenuhi beberapa prinsip berikut ini:
1. Komunitas sekolah mengembangkan dan meningkatkan nilai-nilai inti etika dan kinerja sebagai landasan karakter yang baik.
2. Sekolah berusaha mendefinisikan “karakter” secara komprehensif, di dalamnya mencakup berpikir (thinking), merasa (feeling), dan melakukan (doing).
3. Sekolah menggunakan pendekatan yang komprehensif, intensif, dan proaktif dalam pengembangan karakter.
4. Sekolah menciptakan sebuah komunitas yang memiliki kepedulian tinggi.(caring)
5. Sekolah menyediakan kesempatan yang luas bagi para siswanya untuk melakukan berbagai tindakan moral (moral action).
6. Sekolah menyediakan kurikulum akademik yang bermakna dan menantang, dapat
menghargai dan menghormati seluruh peserta didik, mengembangkan karakter mereka, dan berusaha membantu mereka untuk meraih berbagai kesuksesan.
7. Sekolah mendorong siswa untuk memiliki motivasi diri yang kuat
8. Staf sekolah (kepala sekolah, guru dan TU) adalah sebuah komunitas belajar etis yang senantiasa berbagi tanggung jawab dan mematuhi nilai-nilai inti yang telah disepakati. Mereka menjadi sosok teladan bagi para siswa.
9. Sekolah mendorong kepemimpinan bersama yang memberikan dukungan penuh terhadap gagasan pendidikan karakter dalam jangka panjang.
10. Sekolah melibatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter.
11. Secara teratur, sekolah melakukan asesmen terhadap budaya dan iklim sekolah,
keberfungsian para staf sebagai pendidik karakter di sekolah, dan sejauh mana siswa dapat mewujudkan karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk itu paradigma pendidikan tepadu perlu digalakkan yaitu dengan memadukan antara teori dan praktek, antara teks dan konteks, selama ini pendidikan kita berlangsung antara teks dan konteks, antara teori dan praktek. Pemisahan ini menyebabkan pemahaman menjadi parsial dan tepisah-pisah dan pelajaran hanya di pahami sebatas formalitas saja. Padahal pendidikan harus menjadi proses konsientisasi (penyadaran) dan sebagai praktek pemerdekaan. Dalam proses konsientasi pendidikan tidak saja diarahkan pada realitas obyektif dan aktual, akan tetapi juga pada proses penyadaran akan dirinya sebagai manusia yang memiliki jati diri/ karakter.
Selain itu, peran mahasiswa sebagai agent of change di lingkungan dalam rangka membuktikan social responsibity-nya yaitu berperan sebagai petugas knowledge transfer dari dunia kampus menuju luar kampus dalam upaya mencerdaskan bangsa dalam berbagai bidang terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah dan sebagai pelopor dalam pembentukan community development untuk memacu dinamisasi kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah. Sehingga peran pendidikan seharusnya dipahami bukan saja dalam konteks mikro (kepentingan anak didik yang dilayani melalui proses interaksi pendidikan), namun juga dalam konteks makro, yaitu kepentingan masayarakat yang dalam hal ini termasuk masyarakat bangsa, negara dan masyarakat dunia.
Minggu, 15 Desember 2013
Perkiraan dan Antisipasi terhadap Masyarakat Masa Depan
23.40Ana FitriaPendidikan0 komentar
BAB
I
LATAR
BELAKANG
1.1 Perkembangan
Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki,
menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan
dalam alam manusia. Dalam penggolongannya, ilmu pengetahuan sendiri dibedakan
menjadi 3 golongan, antara lain:
- Ilmu Alam
merupakan ilmu-ilmu yang objeknya adalah benda-benda alam. Ilmu yang
dikenal dengan sebutan science
ini, digunakan para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan terhadap gejala
dan fenomena alam yang terjadi. Cabang-cabang dari ilmu alam ini antara
lain: astronomi, fisika, biologi, ekologi, fisika, geologi, geografi, ilmu
bumi, dan fisika. Matematika tidak termasuk dalam ilmu alam, namun
matematika menjadi alat/sarana yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam.
- Ilmu Sosial
adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan
manusia dan lingkungan sosialnya. Ilmu ini memiliki cabang yang biasanya
dengan fokus dipelajari di jenjang pendidikan tingkat atas seperti Sekolah
Menengah Atas (SMA), dan lebih dispesifikkan lagi dalam fakultas dan
jurusan dalam perguruan tinggi atau universitas. Cabang-cabang tersebut
adalah antropologi, ekonomi, geografi, hukum, linguistik, pendidikan,
politik, psikologi, sejarah, dan sosiologi.
- Ilmu
Terapan ialah penerapan pengetahuan dari satu atau lebih bidang-bidang.
Ilmu terapan ini biasanya menjadi bidang-bidang yang dipelajari dalam
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), contohnya ilmu komputer dan informatika,
serta ilmu rekayasa yang terdiri dari ilmu biomedik, ilmu pertanian,
rekayasa listrik, dan rekayasa pertanian.
Seperti halnya dalam perkembangan IT, ilmu pengetahuan dikembangkan guna
mempermudah pekerjaan manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang membutuhkan kemampuan
fisik yang besar, kini bisa diperkecil dengan bantuan mesin-mesin otomatis yang
merupakan hasil dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Namun manusia harus bisa
memilah bagaimana menggunakan perkembangan-perkembangan tersebut menjadi
sesuatu yang positif. Sebab ilmu pengetahuan hanya memberikan sebuah kenyataan.
Kebenaran manusiawi harus lebih dari sekedar objektif.
Teknologi
tidak bisa kita hindari dari kehidupan ini, karena teknologi dan ilmu
pengetahuan berjalan beriringan. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, maka
penciptaan teknologi akan terus berkembang. Seperti misalnya adanya ilmu
pengetahuan alam yang mempelajari tentang manusia. Dari ilmu-ilmu tersebut,
manusia bisa membuat manusia sendiri lewat teknologi yang disebut kloning. Dan
lagi kecanggihan alat-alat medis untuk membantu manusia dalam bidang kesehatan.
Ilmu
pengetahuan berkembang sesuai dengan periode dari masa ke masa, penjelasannya
sebagai berikut:
- Zaman Pra
Yunani Kuno (Zaman Purba)
Pada era ini, secara umum terbagi menjadi tiga fase, yaitu: Zaman Batu
Tua (masa
prasejarah,
era ini berlangsung sekitar empat juta tahun SM (sebelum Masehi) sampai 20.000
atau 10.000 tahun SM), Zaman Batu Muda (berlangsung tahun 10.000 SM sampai
2.000 SM atau abad 100 sampai 20 SM) dan Zaman Logam (berlangsung dari abad 20
SM sampai abad 6 SM).
2. Zaman Yunani Kuno (berlangsung dari abad 6 SM
sampai dengan sekitar abad 6 M).
3. Zaman Pertengahan (Zaman ini masih berhubungan
dengan zaman sebelumnya.
Karena awal mula zaman ini pada abad 6 M sampai sekitar abad 14 M). Di
kerajaan
bangsa
Arab, ilmu pengetahuan melahirkan tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya.
- Zaman
Renaissance (Zaman ini berlangsung pada awal abad 14 M sampai dengan
abad 17 M).
- Zaman
modern (Zaman ini sebenarnya sudah terintis mulai dari abad 15 M. Tetapi,
indikator yang nyata terlihat jelas pada abad 17 M dan berlangsung
hingga abad 20 M).
- Zaman
Kontemporer (Zaman ini bermula dari abad 20 M dan masih berlangsung
hingga saat
ini).
1.2 Perkembangan
TIK dan Globalisasi Informasi
Perkembangan ilmu
pengetahuan memberikan dampak yang besar dalam penemuan baru di bidang
teknologi. Pada akhir abad ke-15 muncul gerakan yang bertujuan mengembangkan
kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang dikenal dengan istilah renaisans, yaitu
suatu gerakan yang ingin melahirkan kembali kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno. Renains
menjunjung tinggi kemampuan manusia, baik cara berpikir atau menemukan dan menciptakan. Dengan adanya
gerakan ini, semua orang bebas berpikir untuk menghasilkan penemuan baru di
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain gerakan renaisans, juga muncul
gerakan yang disebut dengan humanisme yaitu suatu gerakan yang bertujuan
mempelajari dan mengembangkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan untuk diabdikan
bagi kepentingan manusia.
Memasuki abad ke-18, ilmu
pengetahuan berkembang pesat hingga abad ini sering disebut dengan abad
pemikiran. Abad ke-18 merupakan abad penemuan berbagai bidang ilmu pengetahuan,
baik ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, maupun teknologi. Penemuan
di bidang teknologi merupakan awal abad teknologi yang membawa dunia berkembang
dengan lebih jauh dan lebih cepat dari masa sebelumnya. Bersamaan dengan itu,
pertumbuhan bangsa-bangsa dan segala peradabannya juga melaju dengan cepat sehingga
pada abad ke-21 manusia mampu menciptakan berbagai peralatan dan teknologi
canggih. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berjalan pesat,
mendorong berkembangnya berbagai macam industri di berbagai negara termasuk
Indonesia.
Di Indonesia, ilmu
pengetahuan dan teknologi mulai berkembang sejak masa kolonial Belanda.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kolonial Belanda ini
ditandai dengan berdirinya perusahaan swasta asing, misi keagamaan dan
pendidikan Barat. Semuanya itu merupakan bagian dari eksploitasi ekonomi.
Teknologi modern Barat memperkenalkan teknologinya yang pertama dengan melalui
pabrik gula. Modernisasi teknologi tersebut kemudian menyebar ke sektor lainya,
seperti pada galangan kapal, pertambangan batu bara, timah, gas dan minyak
bumi. Sejak pertengahan abad ke-19 perkembangan ilmu pengetahuan Barat telah
tersebar di Indonesia dengan melalui pembukaan sekolah-sekolah Barat bagi
penduduk bumiputra.
Ilmu pengetahuan dan
teknologi yang dipelopori bangsa Barat pada masa kolonial Belanda ternyata
belum mampu mendorong terjadinya revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi di
Indonesia. Pada masa Pendudukan Jepang sempat diperkenalkan beberapa teknologi
baru, khususnya dalam bidang pertanian. Akan tetapi, ternyata hal tersebut
tidak banyak berpengaruh terhadap masyarakat pada masa itu. Penerapan teknologi
modern di dalam masyarakat hanya terpusat pada bidang tertentu dan sebagian
besar dikuasai oleh pengusaha asing.
Pada masa itu, Indonesia
masih tertinggal jauh dibandingkan dengan
negara-negara Barat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal
tersebut di antaranya disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut.
1. Terbatasnya jumlah
penduduk Indonesia yang mendapat pendidikan.
2. Terbatasnya jumlah orang
Indonesia yang terlibat langsung dalam pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Tidak adanya keinginan
baik dari penguasa kolonial Belanda maupun penguasa
swasta asing dalam melakukan alih teknologi
bagi penduduk pribumi.
4. Tidak terjadinya
industrialisasi.
5. Tidak terjadinya inovasi
teknologi yang berarti dalam masyarakat Indonesia
sendiri.
Perkembangan TIK dan
Globalisasi Informasi yang makin cepat dalam era globalisasi merupakan salah
satu ciri utama dari masyarakat masa depan. Globalisasi perkembangan teknologi
tersebut dapat berdampak positif ataupun negatif, tergantung pada kesiapan
bangsa seta kondisi sosial-budayanya untuk menerima limpahan informasi atau
teknologi itu. Segi positifnya antara lain memudahkan untuk menguasai dan
menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Sedangkan segi negatif akan
timbul apabila kondsi sosial-budaya belum siap menerima limpahan itu (Pratiwi
Sudarsono, 1990: 14-15).
Percepatan perkembangan TIK
dan Globalisasi Informasi tersebut terkait dengan landasan ontologis,
epistemologis, dan aksiologis (Filsafat Ilmu, 1981: 9-15). Segi landasan
ontologis objek telaahan ialah berupa pengalaman atau segenap ujud yang
dijangkau lewat alat indera telah mengalami perkembangan yang pesat karena
didapatkannya peranti (device) yang
membantu alat indera tersebut. Dari segi landasan epistemologis, yakni cara
yang dipakai untuk memperoleh pengetahuan yang disebut ilmu pengetahuan
tersebut telah mengalami perkembangan yang pesat. Dan akhirnya, landasan
aksiologis atau untuk apa IPTEK itu dipergunakan yang mempersoalkan tentang
penggunaan IPTEK tersebut secara moral tertuju pada kemaslahatan manusia.
Terdapat serangkaian kegiatan pengembangan dan pemanfaatan IPTEK, yakni:
1.
Penelitian dasar
(basic research).
2.
Penelitian
terapan (applied research).
3.
Pengembangan
teknologi (technological development).
4.
Penerapan
teknologi.
Biasanya langkah-langkah tersebuat diikuti oleh
langkah evaluasi, apakah hasil tersebut dapat diterima masyarakat, umpamanya
dari segi etis-politis-religius-dan sebagainya.
Kemudian,
perkembangan komunikasi dengan arus informasi yang makin padat dan akan
dipercepat di masa depan, mencakup keseluruhan unsur-unsur dalam proses
komunikasi tersebut. Sumber pesan mencakup aspek kehidupan manusia yakni
keseluruhan unsur-unsur kebudayaan, mulai dari sistem dan upacara keagamaan
sampai dengan, bahkan terutama sistem teknologi dan peralatan (Koentjaraningrat,
1974: 12).
1.3 Globalisasi
Menurut asal katanya, kata
globalisasi diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal.
Globalisasi adalah proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut
informasi secara mendunia melalui media cetak maupun elektronik. Ada pula yang
mengatakan globalisasi, yakni hilangnya batas ruang dan waktu akibat kemajuan
teknologi informasi ataupun suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan
tidak mengenal batas wilayah.
Menurut Edison A. Jamli
dkk.Kewarganegaraan.2005, Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari
gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain
yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman
bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Terdapat empat bidang kekuatan
gelombang globalisasi yang paling kuat dan menonjol daya dobraknya, yakni:
a. Bidang iptek yang mengalami perkembangan yang
semakin dipercepat utamanya dengan penggunaan berbagai teknologi canggih
seperti computer dan satelit. Kekuatan pertama gelombang globalisasi ini
membuat bumi seakan-akan menjadi sempit dan transparan. Globalisasi iptek
tersebut memeberi orientasi baru dalam bersikap dan berpikir serta berbicara
tanpa batas negara.
b. Bidang ekonomi yang mengarah ke ekonomi regional
dan atau ekonomi global tanpa mengenal batas-batas negara. Di berbagai bagian
dunia telah berkembang kelompok-kelompok ekonomi regional. Gejala lainnya
adalah makin meluasnya perusahaan multi nasional sebagai perusahaan raksasa
yang kakinya tertanam kuat di berbagai negara. Globalisasi ekonomi telah
menyebabkan negara hanya bertapal batas politik saja, sedangkan dari segi
ekonomi semakin kabur.
c. Bidang lingkungan hidup telah menjadi bahan
pembicaraan dalam berbagai pertemuan internasional, yang mencapai puncaknya
pada konferensi tingkat tinggi (KTT) bumi , atau nama resminya: konferensi PBB
mengenai lingkungan hidup dan pembangunan (UNCED), pada awal juni 1992 di Rio
De Jeneiro,Brasil. Kerusakan ke berbagai negara di sekitarnya, bahkan mengancam
keselamatan planet ini. Oleh karena itu, diperlukan wawasan dan kebijakan yang
tepat dalam bidang pembangunan yang menjamin kelestarian dan keselamatan
lingkungan hidup, atau pembangunan yang berwawasan lingkungan.
d. Bidang pendidikan dalam kaitannya dengan identitas
bangsa, termasuk budaya nasional dan budaya-budaya nusantara. Disamping terpaan
tentang gagasan-gagasan dalam pendidikan globalisasi terjadi pula secara
langsung menerpa setiap individu manusia melalui buku, radio, televisi,dan
media lainnya.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu
negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh
positif dan pengaruh negatif.
Dampak positif globalisasi antara lain:
a.
Mudah memperoleh
informasi dan ilmu pengetahuan
b.
Mudah melakukan
komunikasi
c.
Cepat dalam
bepergian (mobilitas tinggi)
d.
Menumbuhkan
sikap kosmopolitan dan toleran
e.
Memacu untuk
meningkatkan kualitas diri
f.
Mudah memenuhi
kebutuhan
Dampak negatif globalisasi antara lain:
a.
Informasi yang
tidak tersaring.
b.
Membuat tidak
kreatif, karna prilaku konsumtif.
c.
Membuat sikap
menutup diri, berpikir sempit.
d.
Banyak meniru
perilaku yang buruk.
e.
Mudah
terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu
negara.
Jadi, adanya kehadiran
globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk
Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan
pengaruh negatif. Dampak-dampak pengaruh globalisasi tersebut kita kembalikan
kepada diri kita sendiri sebagai generasi muda Indonesia agar tetap menjaga
etika dan budaya, agar kita tidak terkena dampak negatif dari globalisasi.
BAB II
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana
gambaran masyarakat dunia di masa depan?
2.
Bagaimana
gambaran masyarakat Indonesia di masa depan?
3.
Bagaimana
bentuk/isi pendidikan untuk mempersiapkan manusia Indonesia?
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Gambaran Masyarakat Dunia di Masa Depan
Di dalam era globalisasi
sifat rasa kedaerahan, corak kebangsaan tidak lagi secara dominan dapat
ditonjolkan, dunia seolah-olah makin akrab, suatu bangsa tidak lagi merasa
asing bila berada di suatu tempat bangsa lain, pakaian, makanan, dan bahkan
bahasa tidak lagi menentukan identitas suatu bangsa. Pada saat ini, hal
tersebut baru merupakan kecenderungan-kecenderungan yang kelihatannya semakin
nyata telah menampakkan sosok yang global atau mendunia. Era globalisasi
terjadi arus lalu-lintas perjalanan antarbangsa dari satu negeri sangat maju,
karena adanya sistem transportasi dan sikap penerimaan dari bangsa yang dituju.
Kemudahan transportasi dan sikap penerimaan ini ditunjang oleh keadaan yang
makin mantap dan pelayanan yang semakin memuaskan. Demikian pula masing-masing
negara yang ada di dunia meningkatkan dan menggalakkan pariwisata, disamping sikap
antarbangsa yang suka mengadakan kunjungan atau tour ke mancanegara secara
terencana. Misalnya saja, pada masa-masa sebelumnya bangsa kita adalah bangsa
yang belum tourist minded, artinya berkunjung ke luar negeri
itu bukan suatu gaya hidup, tetapi sekarang, bagi mereka yang mampu, bepergian
ke luar negeri itu memang sudah menjadi suatu rencana, sudah diarahkan sehingga
mobilitas antarbangsa sangat tinggi.
3.2
Gambaran Masyarakat Indonesia di Masa Depan
Kita menyadari akan
keterbatasan pengetahuan kita, dan juga umat manusia pada umumnya, mengenai apa
yang akan terjadi di masa depan. Salah satu faktor yang amat menentukan, dan
justru menjadi salah satu penyebab ketidakpastian adalah perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang sangat pesat. Banyak hal yang sekarang sudah diterima secara
luas, sepuluh tahun yang lalu belum terpikirkan atau baru jadi angan-angan. Betapa
pun kita sadari banyak variabel yang berada di luar kekuasaan kita dan perkembangannya
seringkali tidak dapat diduga, namun tidak berarti bahwa bangsa Indonesia tidak
memiliki visi masa depan. Artinya, kita tidak hanya menyerah kepada nasib atau
perkembangan keadaan. Paling tidak untuk 25 tahun ke depan kita sudah mempunyai
gambaran tentang wujud masa depan yang kita harapkan atas dasar
perkiraan-perkiraan berdasarkan pengetahuan yang ada pada kita sekarang,
sebagai berikut.
- Kesejahteraan
masyarakat akan meningkat dengan nyata dan cukup berarti. Laju pertumbuhan
ekonomi diusahakan untuk tercapai dan terpelihara pada tingkat yang cukup
tinggi. Volume ekonomi yang meningkat demikian besar akan menghasilkan
pasar yang dinamis, dan dengan demikian menjadi pendorong bagi pertumbuhan
produksi dalam negeri. Pasar ekspor yang diperkirakan juga akan
berkembang, dengan perdagangan dunia yang makin tanpa hambatan.
- Dengan
dinamika ekonomi yang demikian, proses transformasi struktural akan terus berlangsung.
Peran sektor in dustri dalam perekonomian akan makin meningkat menjadi
sekitar sepertiga pada akhir PJP II dari sekitar seperlima pada akhir PJP
I.
- Proses
tersebut di atas akan mendorong terbentuknya lapisan menengah yang makin
kuat, yang akan menjadi tulang punggung perekonomian yang makin andal.
Lapisan menengah ini terdiri atas tenaga kerja profesional dan para
pengusaha menengah yang mandiri.
- Dengan
tingkat perkembangan yang demikian, sebagaimana halnya negara industri
lainnya, Indonesia sudah akan makin kuat ketahanan ekonominya.
- Kemandirian
dalam pembiayaan pembangunan telah tercapai. Pada akhir PJP II Indonesia
sudah bukan lagi negara yang menerima pinjaman lunak. Neraca pembayaran
sudah akan mantap. Kita akan makin mengandalkan perolehan devisa, dan
kesehatan neraca pembayaran luar negeri dari perdagangan barang dan jasa,
terutama pariwisata dan termasuk jasa tenaga kerja, dan tidak lagi dari
bantuan luar negeri. Hal ini sejalan dengan kemampuan pembangunan yang
makin mandiri.
- Masalah
kemiskinan telah terselesaikan.
- Kesenjangan
pembangunan antardaerah secara sistematis dan konsisten akan makin
berkurang. Meskipun dalam 25 tahun belum mungkin dapat dihilangkan sama
sekali, yang dapat diupayakan adalah mencegah agar jurang kesenjangan
tidak makin melebar. Kawasan tertinggal akan memperoleh perhatian khusus
agar dapat melepaskan diri dari perangkap ketertinggalan, dan dapat turut
melaju dalam arus kemajuan ekonomi bersama kawasan lainnya yang telah lebih
dulu berkembang. Misalnya, kawasan Indonesia sebelah timur akan dipercepat
laju pertumbuhannya dengan berbagai inisiatif agar dapat mencapai di atas
rata-rata pertumbuhan kawasan sebelah barat.
- Kesejahteraan
rakyat yang makin meningkat juga akan tercermin pada tingkat pendidikan
yang makin baik, makin luas jangkauannya, dan makin tinggi kualitasnya.
Selambat-lambatnya pada Repelita VIII, pendidikan dasar sembilan tahun
telah dituntaskan dan telah mulai dilanjutkan dengan pendidikan universal
12 tahun, seperti halnya yang berlaku di negara-negara industri pada umumnya.
- Pada akhir
PJP II penduduk Indonesia sudah menjadi penduduk perkotaan. Artinya,
penduduk perkotaan yang pada tahun 1995 berjumlah sekitar 69,9 juta atau
35,9 persen dari total penduduk, akan meningkat menjadi sekitar 155 juta
atau sekitar 60 persen dari total penduduk. Perkembangan tersebut sejalan
dengan transformasi ekonomi yang berkaitan erat dengan proses urbanisasi.
Urbanisasi tidak hanya diartikan sebagai perpindahan penduduk dari desa ke
kota, tetapi adalah juga proses pembangunan wilayah perdesaan menjadi
wilayah perkotaan yang maju berkembang dan dalam kehidupan modern.
- Secara
keseluruhan proses transformasi ekonomi, akan berjalan bergandengan dengan
transformasi budaya.
- Kualitas
demokrasi akan makin meningkat, sebagai hasil dari peningkatan kualitas
lembaga-lembaga sosial politik dan kualitas para pelakunya. Kehidupan
masyarakat yang makin transparan, akan tercermin bukan hanya di bidang
ekonomi, melainkan juga dalam kehidupan masyarakat pada umumnya termasuk
di bidang politik.
- Kita
ditantang untuk menyerasikan kebutuhan akan ruang dan sumber daya alam
dengan pelestarian lingkungan, agar pembangunan kita berkelanjutan. Dengan
pengalaman yang panjang, dan kesadaran yang kuat akan artinya memelihara
lingkungan, dalam 25 tahun mendatang ini bangsa Indonesia akan menemukan
formula keseimbangan antara kebutuhan pemakaian dan pelestarian sumber
alamnya. Semuanya itu menjurus pada peningkatan kualitas hidup manusia
Indonesia.
Demikianlah secara sangat ringkas gambaran masa depan
yang ingin kita tuju dalam beberapa segi pokoknya. Dengan wujud masa depan yang
demikian, Indonesia sudah akan menjadi bangsa industri yang maju dan modern,
dan berdiri di atas landasan kemandirian pada sekitar akhir PJP II. Kita akan
mencapai tahap yang me mungkinkan bangsa ini untuk tumbuh selanjutnya dengan
kekuatannya sendiri, dengan memanfaatkan dinamika perkembangan ekonomi
internasional yang terus didorong oleh keterbukaan dan integrasi ekonomi secara
global dan regional, serta kemajuan teknologi.
3.3
Bentuk/Isi Pendidikan Untuk Mempersiapkan Manusia Indonesia
Pendidikan berkewajiban
mempersiapkan generasi baru yang sanggup menghadapi tantangan zaman baru yang
akan datang, yaitu generasi yang melek kebudayaan dan mampu think globally but act locally, dan sebagainya.
Keberhasilan pengembangan pendidikan tergantung pada keserasian penggarapan
tiga lapisan (lapisan sistem/nasional, lapisan konstitusional dan lapisan
individu).
Untuk mewujudkan manusia
masa depan diperlukan berbagai upaya. Pada peralihan ke abad 2, Indonesia akan
ikut memasuki PJP II. Oleh karena itu ada upaya untuk mengantisipasi masa
depan, pendidikan diarahkan pada aspek yang paling berperan dalam individu
untuk memberi arah antisipasi tersebut yakni nilai dan sikap, pengembangan
budaya dan sarana kehidupan, dan tentang pendidikan itu sendiri.
1.
Perubahan Nilai
dan Sikap
Nilai dan sikap memegang peranan penting dalam
menentukan wawasan dan perilaku manusia. Nilai adalah norma yang menentukan
suatu sikap, sedangkan sikap akan sangat berperan menentukan apabila terbuka
kemungkinan berbagai alternatif untuk bertindak. Dalam sikap ada 3 aspek, yakni
aspek kognitif, aspek afektif dan aspek konatif. Pembentukan/pengubahan nilai
dan sikap dalam diri seseorang dapat dilakukan dengan cara pembiasaan, internalisasi
nilai, keteladanan, teknik klarifikasi nilai, dan sebagainya.
2.
Pengembangan
Kebudayaan
Salah satu upaya penting dalam mengantisipasi masa
depan adalah upaya yang berkaitan dengan pengembangan kebudayaan. Ada empat
dimensi tentang konsep Dasawarsa Kebudayaan seduniayaitu sebagai berikut :
a.
Afirmasi atau
penegasan dimensi budaya.
b.
Mereafirmasi
atau perkembangan identitas budaya.
c.
Partisipasi.
d.
Memajukan kerja
sama budaya antar bangsa.
3.
Pengembangan
Sarana Pendidikan
Pengembangan sarana pendidikan sebagau salah satu persyaratan
utama untuk menjemput masa depan dengan segala kesempatan dan tantangannya. Secara
tradisional, permasalahan pendidikan di Indonesia dengan wilayah yang luas dan
penduduk yang besar tetapi tidak merata adalah masalah kuantitas, kualitas,
pemerataan dan relevansi. Khusus untuk menyongsong era globalisasi yang semakin
tidak terbendung, terdapat beberapa hal yang secara khusus memerlukan perhatian
di bidang pendidikan, yakni pendidikan untuk pengembangan iptek, pendidikan
untuk pengembangan ketrampilan manajemen, pendidikan untuk pengelolaan kependudukan,
lingkungan, keluarga berencana dan kesehatan, serta pendidikan untuk
mempertinggi mutu tenaga kependidikan dan kepelatihan.
Terdapat lima strategi dasar dalam era globalisasi tentang
pendidikan sebagai berikut:
a. Pendidikan untuk
pengembangan IPTEK.
b. Pendidikan untuk
pengembangan keterampilan.
c. Pendidikan untuk
pengelola kependudukan.
d. Pendidikan untuk
pengembangan sistem nilai.
e. Pendidikan untuk
mempertinggi mutu tenaga kependidikan.
BAB
IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Pendidikan merupakan sebuah
wadah tempat dibentuknya atau disiapkannya peserta didik untuk menghadapai masa
depan yang terus berkembang. Maka dari pada itu, pendidikan diharuskan selalu
mengantisipasi keadaan atau kondisi masyarakat di masa yang akan datang. Masyarakat
masa depan dengan karakteristik kecenderungan globalisasi yang semakin kuat,
perkembangan IPTEK yang semakin pesat, perkembangan arus informasi yang makin
padat dan cepat, dan adanya tuntutan peningkatan layanan profesional dalam
berbagai segi kehidupan manusia memerlukan masyarakat yang mampu menerima
menyesuaikan diri dengan kondisi masa depan tersebut. Pendidikan berkewajiban
mempersiapkan mempersiapkan dan membentuk individu atau masyarakat yang mampu
menghadapi masa depan. Pendidikan juga selalu bertumpu pada suatu wawasan
kesejarahan, yakni pengalaman-pengalaman masa lampau, kenyataan dan kebutuhan
mendesak masa kini, dan aspirasi serta harapan masa depan. Melalui pendidikan,
setiap masyarakat akan melestarikan nilai-nilai luhur sosial kebudayaannya yang
telah terukir dengan indahnya dalam sejarah bangsa tersebut. Serentak dengan
itu, melalui pendidikan juga diharapkan dapat ditumbuhkan kemampuan untuk
menghadapi tuntutan objektif masa kini, baik tuntutan dari dalam maupun
tuntutan karena pengaruh dari luar masyarakat yang bersangkutan. Dan akhirnya,
melalui pendidikan akan ditetapkan langkah-langkah yang dipilih masa kini
sebagai upaya mewujudkan aspirasi dan harapan di masa depan.
Sumber:
Umar Tirtarahardja dan La Sulo. Edisi Revisi. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
http://rephapuccino.blogspot.com/2013/07/perkembangan-ilmu-pengetahuan.html. Diakses pada 23 November 2013.
http://deni-anggara.blogspot.com/2012/03/pengertian-dan-pengaruh-globalisasi.html. Diakses pada 23 November 2013.
Langganan:
Komentar (Atom)
Twitter
Facebook
Flickr
RSS


